Kasus KDRT di Karawang, Mantan Suami Valencya: Saya Memarahi Ibu Valen Itu Tidak Benar

  • Whatsapp

KarawangPos – Mantan Suami Valencya, Chan Yung Ching, membantah bahwa dirinya kerap memarahi istrinya dalam keadaan mabuk.

Hal itu dia sampaikan saat menggelar konferensi pers kepada awak media, Selasa (23/11)

Read More

Dalam keterangannya kepada awak media, Chan menceritakan dari awal mula dirinya menikah dengan Valencya, hingga akhirnya terjadi perceraian dalam rumah tangganya.

Chan menikah dengan Valencya di Pontianak pada tahun 2000. Saat menikah, Valencya sudah mengetahui bahwa calon suaminya merupakan duda yang memiliki 3 orang anak. Setelah menikah, keduanya hidup bahagia tinggal di Taiwan dengan dikaruniai 2 anak.

Pada tahun 2005, anak perempuan Chan, dari istri pertamanya, meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Dari peristiwa kematian itu, Chan akhirnya memperoleh uang asuransi. Uang tersebut akhirnya digunakan Chan untuk membuka usaha toko bangunan bersama Valencya di Karawang.

Karena saat membuka usaha toko bangunan itu status kewarganegaraan Chan masih sebagai Warga Negara Asing (WNA), akhirnya usaha toko bangunannya tersebut menggunakan atas nama istrinya, Valencya.

Usaha toko bangunan akhirnya berkembang pesat. Hingga awalnya Chan dan Valencya yang hanya mengontrak bisa memiliki 4 buah rumah dan beberapa kendaraan.

Pada tahun 2009, kehidupan Chan dan Valencya mulai terusik karena sering terjadi percekcokan dipicu hadirnya orang ketiga di dalam rumah tangganya. Diketahui oleh Chan, atas perbuatan yang dilakukan Valencya, akhirnya Valencya mengakui dan menjadi stres hingga meminum obat tidur dalam jumlah banyak hingga jatuh pingsan.

Saat itu Chan membawa istrinya ke rumah sakit. Selama seharian penuh Chan menjaga Valencia di rumah sakit. Namun saat Valencya siuman, Chan mendapati situasi yang tidak mengenakan hatinya.

Saat siuman, Valencya malah menanyakan kepada Chan “dimana si mister x”, laki-laki yang diduga merupakan selingkungan Valencya. Chan yang emosi dan depresi, akhirnya pulang ke rumah.

Dalam kondisi menyendiri, Chan melamun sambil merokok di rumahnya. Kemudian menyundutkan rokok ke tangannya dengan harapan rasa sakit di tangan bisa menghilangkan rasa sakit hatinya terhadap Valencya yang dicurigainya sudah memiliki laki-laki lain.

“Tahun 2009, istri saya hp blackberry ketemu cowok. Jadi hampir setengah tahun. Hampir stres sampai tangan saya sundut dengan rokok untuk menghilangkan sakit hati. Tapi 2009 istri saya minta maaf. Saat itu saya memaafkan, karena kasihan sama anak-anak,” tutur Chan di hadapan awak media, dengan nada bahasa Indonesia yang terbata-bata dan kurang fasih.

Tahun 2015, akhirnya Chan mendapatkan status sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). Saat itu Chan memiliki keinginan untuk mengembangkan usahanya dengan mendirikan PT. Chan. Usaha inilah yang di kemudian hari menjadi pangkal percekcokan kehidupan rumah tangganya.

Tahun 2017, Chan mendapati pesan WhatsApp seorang laki-laki di handphone Valencya dengan kata-kata “sayang dan kangen serta ingin berpelukan seperti kemarin”. Saat itu Chan menafsirkan pasti sudah terjadi sesuatu antara istrinya dengan laki-laki tersebut.

Chan juga sempat marah, karena Valencya melakukan operasi plastik di seluruh tubuhnya. Chatting whatsapp dengan lelaki lain yang diketahui Chan, Valencya kembali minum obat tidur dalam jumlah banyak hingga jatuh pingsan.

Lagi-lagi Chan membawa istrinya ke rumah sakit. Chan masih setia mendampingi istrinya di rumah sakit. Pihak keluarga Valencya yang mengetahui kejadian ini pun menasehati Valencya. Lagi, Chan kembali memaafkan istrinya. Tetapi setiap kali Valencya pergi ke luar rumah, Chan selalu terbayang-bayang istrinya bersama lelaki lain. Hal inilah yang membuat Chan menjadi stres dan depresi.

Tahun 2018, sebenarnya kehidupan rumah tangga Chan dengan Valencya masih baik-baik saja. Tetapi kemudian usaha toko bangunan mereka mengalami pasang surut, hingga menimbulkan beberapa hutang usaha. Karena adanya hutang usaha yang cukup besar, Valencya meminta agar PT. Chan ditutup. Tetapi Chan tetap berusaha melanjutkan usahanya.

Valencya lalu marah-marah kepada Chan dengan kata-kata kasar seperti anj*ng dan bab* (sensor, red). Hal inilah yang menjadi awal pertengkaran diantara keduanya secara terus menerus.

Hingga Januari 2019, Valencya memarahi dan mengusir Chan dari rumah dengan kata-kata kasar anj*ng dan bab*. Valencya juga mengirimkan pesan voicenot whatsapp kepada Chan yang isinya mengusir Chan dari rumah dan memaki-maki Chan dengan kata-kata kasar seperti bajingan, brengsek dan lain-lain. Valencya juga melarang Chan pulang ke rumah dan bertemu dengan anaknya lagi.

Februari 2019, Chan yang sudah tidak tahan dimaki-maki setiap hari oleh Valencya, akhirnya pergi dari rumah dan tidur di kantor PT. Chan. Karena dilarang bertemu dengan anak-anaknya, akhirnya Chan hanya bisa menemui anak-anaknya di sekolah.

Maret, April, Mei 2019, Chan masih mengirimkan uang ke rekening istrinya sebanyak 10 juta tiga kali dan 30 juta sekali. Namun uang tersebut enggan diterima istrinya dan dikirimkan kembali ke rekening Chan.

Bahkan April 2019, Valencya meminta bantuan Chan untuk datang ke kantor notaris guna tanda tangan surat persetujuan pinjaman uang sebesar Rp 2 miliar ke bank untuk keperluan renovasi toko bangunan.

“Saya memarahi Ibu Valen itu tidak benar. Saya justru diusir dari rumah. Saya tidak boleh ketemu dengan anak-anak saya. Saya tidak marah-marahi Ibu Valen. Tapi Valen malah maki saya anj*ng bab* karena masalah uang,” tutur Chan.

“Sebenarnya yang dilaporkan itu masalah keuangan. Jadi tidak pernah ada laporan marah-marah saya mabuk,” katanya.

“Hari ini saya mau cerita ke media karena cuma ingin nama saya bersih. Dengan bukti-bukti yang ada, saya tidak bermaksud mau menjelekan mantan istri saya,” timpal Chan, yang mengaku sejak awal kasus ini ramai di media, sebenarnya ia tidak mau berkomentar.

Karena alasan privasi keluarga dan menjaga perasaan anak-anaknya. Tetapi karena isu di media terus berkembang miring dan memojokan dirinya, akhirnya Chan mengaku terpaksa buka mulut juga.

Chan bersedia menjaminkan namanya untuk pinjaman uang Rp 2 miliar ke bank, dengan harapan ia bisa kembali dan diterima istrinya di rumah. Namun saat itu Valencya masih marah-marah. Sehingga Chan belum berani untuk pulang ke rumah.

Beberapa lama setelah pinjaman sebesar Rp 2 miliar ke bank, Valencya bermaksud menambah pinjamannya lagi ke bank. Tetapi saat itu Chan tidak setuju. Chan membuat surat ke bank dan mencabut kuasa yang diberikan kepada istrinya sehingga Valencya tidak bisa lagi meminjam uang ke bank.

September 2019, Valencya mengajukan gugatan cerai. Tetapi saat itu Chan tidak bersedia, karena mengaku masih sayang kepada Valencya dan anak-anaknya. Akhirnya Chan melakukan banding dan kasasi agar tidak terjadi perceraian.

Upaya banding dan kasasi dari Chan masih berlanjut. Chan sempat membawa surat kesepakatan yang bertujuan untuk menjaga agar harta gono-gini tidak habis dipergunakan Valencya untuk meminjam uang ke bank tanpa sepengetahuan Chan.

Sebenarnya Chan sempat akan merestui gugatan cerai istrinya. Tetapi yang memberatkan Chan adalah hak asuh anak dan harta gono-gini keluarga sepenuhnya jatuh ke tangan Valencya. Dengan alasan 50% untuk Valencya dan 50% untuk anaknya. Sementara Chan menegaskan bahwa ia juga harus kebagian 50% harga gono-gini, karena kondisi dia masih hidup dan dalam sehat wal’afiat.

Semenjak saat itulah Chan dan Valencya sudah tidak bisa dimediasi lagi oleh pengadilan agama. Akhirnya keduanya saling melaporkan.

Chan melaporkan Valencya ke Polda Jawa Barat atas tuduhan kekerasan psikis yang dialaminya. Sementara Valencya melaporkan Chan ke Polres Karawang dengan tuduhan penelantaran anak.

  • Whatsapp

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *