KarawangPos – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Karawang, Jawa Barat, meminta Kusumayati, terdakwa dalam perkara dugaan pemalsuan tanda tangan dalam surat keterangan waris, membangun komunikasi dengan pelapor agar restorative justice bisa segera tercapai.
“Kami kan sudah membuka ruang RJ (restorative justice). Jadi ibu Kusumayati (terdakwa) sering-seringlah berkomunikasi dengan anak ibu, Stephanie (pelapor) atau pengacaranya,” kata Nelly Andriani, Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Karawang, Kamis (25/7/2024).
Hal tersebut dia sampaikan saat akan menunda agenda persidangan, karena Kusumayati mengaku sedang sakit saat ditanya kabarnya oleh majelis hakim.
Dalam kondisi sakit itu, Kusumayati tidak didampingi satupun pengacara.
Selanjutnya, majelis hakim yang menidangkan perkara tersebut menunda persidangan.
“Sehubungan ibu Kusumayati kondisinya sakit, dan tidak memungkinkan untuk mengikuti persidangan, maka sidang ditunda dan akan dilanjutkan pada Selasa (30/7/2024),” katanya.
Majelis hakim menyampaikan bahwa hadir atau tidaknya pengacara Kusumayati pada sidang berikutnya, persidangan akan tetap dilanjut jika kondisi kesehatan Kusumayati membaik.
Sementara itu, Stephanie (pelapor) menempuh jalur hukum terkait dugaan pemalsuan tanda tangan dalam Surat Keterangan Waris (SKW) tertanggal 27 Februari 2013.
Dalam kasus ini pihak terlapor yang kini berstatus terdakwa ialah sang ibu kandungnya, Kusumayati.
Surat keterangan waris itu dibuat di Kelurahan Nagasari, Kecamatan Karawang Barat dan notulen RUPSLB PT EMKL Bimajaya Mustika.
Sehingga pada sidang berikutnya diagendakan untuk memintai keterangan pihak notaris dan pihak kelurahan.






